Kim Yulia Devi Ristanti Write's

Kim Yulia Devi Ristanti Write's

Selasa, 13 Desember 2011

Konflik Antara Agama Islam Dan Kristen di Indonesia


            Berdasarkan sudut pandang kebahasaan, bahasa Indonesia pada umumnya “agama” dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”. Agam diambil dari dua akar suku kata, yaitu “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” yang berarti “kacau”. Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar “tidak kacau”. Menurut inti maknanya yang khusus, kata agama dapat disamakan dengan kata religion dalam bahasa Inggris, religie dalam bahasa Belanda, keduanya berasal dari bahasa Latin, religio, dari
akhir kata religare yang mberarti mengikat. Jadi agama dapat diartikan juga dengan suatu yang dijadikan acuan untuk manusia dalam ,menjalani hidup supaya kehidupan manusia tidak kacau dan agama bersifat mengikat para penganutnya dengan aturan-aturannya.
            Menurut para ilmuan sosial, kehidupan manusia yang terbentang sepanjang sejarah selalu dibayang-bayang oleh apa yang disebut agama. Bahkan, dalam kehidupan sekarangpun dengan kemajuan teknologi yang sudah sangat modern manusia tidak terlepas dari agama. Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok, juga memberi harapan tentang kelanggengan hidup setelah mati. Agam dapat menjadi sarana menusia untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan, mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujun serta nilai-nilai yang landasan keseimbangan masyarakat. Agama juga sebagai jawaban atas pertannyaan yang tidak bisa dijawab oleh akal manusia dan teknologi yang berkembang saat ini.
            Agama juga mempunyai fungsi yang tidak dapat dilepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi manusia dan masyarakatnya. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan analisis bahwa tantangan-tantangan manusia dapat terbagi menjadi 3 hal: ketidakpastian, ketidakmampuan, dan kelangkaan. Untuk mengatasi itu semua manusia lari kepada agama, karena amanusia percaya dengan keyakinan yang kuat bahkan agama memiliki kesanggupan yang definitive untuk menolong manusia. Dengan kata lain manusia memberikan suatu fungsi tertentu pada agama.
Adapun fungsi agama:
  1. Fungsi edukatif
      Manusia mempercayakan fungsi edukatif kepada agama yang mencakup tugas mengajar dan tugas bimbingan. Agama dianggap sanggup memberikan pengajaran yang otoritatif, bahkan edalam hal-hal yang ”sakral” tidak dapat salah. Masyarakat  mempercayakan anggota-anggotanya kepada instansi agama dengan keyakinan bahwa mereka sebagai menusia (dibawah bimbingan agama) akan berhasil mencapai kedewasaan pribadinya yang penuh melalui proses hidup yang telah ditentukan oleh hukum pertumbuhan yang penuh ancaman dari situasi yang tidak menentu dan mara bahaya yang dapat menggagalkannya mulai dari masa kelahiran dan kanak-kanak menuju ke masa remaja dan masa dewasanya. Keunggulan dan kelebihan agama bahkan dalam zaman sekarang masih diakui masyarakat luas.
  1. Funngsi penyelamatan
      Usaha untuk mencapai mencapai cita-cita tertinggi (yang tumbuh dari nurani manusia sendiri) itu tidak boleh dipandang ringan begitu saja. Jaminan untuk itu mereka temukan dalam agama.
            Sedangkan konflik adalahh aspek intrinsik dan tidak mungkin dihindarkan dalam pperubahan sosial. Konflik adalah suatu ekspresi heterogenitas kepentingfan nilai, dan keyakinan yang muncul sebagai formasi baru yang ditimbulakan oleh perubahan sosial yang muncul bertentangan denagn hambatan yang diwariskan. Namun carea kita menangani konflik adalah persoalan kebiasaan dan pilihan. Satu kebiasaan khas dalam konflik adalah memberikan prioritas yang tinggi guna mempertahankan kepentingan pihaknya sendiri. Jika ncai menmgabaikan kepentingan abel, atau secara aktif menghancurkannya.
            Pada akhir tahun 1990an Galtung (1969; 1996, 72) mengajukan sebuah model konflik yang berpengaruh, yang meliputi konflik yang simetris ataupun konflik yang tidak simetris. Dia mengatakan bahwa konflik bdapat dilihat sebagai sebuah segitiga, dengan kontradiksi, sikap, dan prilaku.
            Bagi orang Indonesia konflik adalah suatu hal yang harus dihindari. Dan dimata orang Barat orang Indonesia selalu menghindari dengna apa yang dinamakan dengna konfli dengan cara bermusyawarah. Tetapi hal itu sebenarnya kurang benar, karena secara empirik, orang Indonesia juga sering berkonflik dan jarang menggunakan musyawarah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Contohnya adalah seperti pada konflik Maluku-Ambon yang terjadi pada tahun 1999-2002 yang telah memakan banyak korban.
            Konflik bukan selalu mengandung makna yang disfungsional tetapi juga dapat menjadi suatu yang fungsional. Dalam artian lain konflik dapat menjadi tempat untuk mendorong terjadinya perubahan menuju pada suatu kondisi yang lebih baik. Kita memang tidak boleh menciptakan konflik, tetapi kita tidak boleh menghindari konflik apabila itu muncul dimuka kita.
            Jenis-jenis konflik ada dua jika dilihat dari sebab kemunculannya. Yang pertama adalah konflik yang bersifat destruktif. Contohnya seperti konflik yang terjadi antara suku Dayak dan Melayu melawan suku Madura. Konflik ini menjadi destruktif karena konflik dipicu karena rasa kebencian yang tumbuh dalam tubuh mereka masing-masing yang terlibat konflik. Munculnya rasa kebencian itu disebabkan berbagai hal, salah satunya adalah kecemburuan sosial antara dua kelompok atau agama yang terlibat konflik.
            Konflik yang destruktif dalam kehidupan agama dapat ditumbuhakan karena para fanatisme para pemeluk agama yang berlabihan. Hal inilah yang kemudian sering menimbulkan tingkah laku yang berlebihan yang kemudian dapat memicu rasa benci pada pemeluk agama lain.
            Jika dilihat Indonesia adalah negara yang mempunyai keragaman dalam banyak hal, dari Suku, Bahasa, Budaya, dan tidak terlepas dengan agama. Bahkan agama yang di Indonesia yang diakui oleh negara ada 5 yaitu, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Katoli, bahkan pda saat pemerintaha mantan presiden KH. Abdul Rahman Wakhid, yang sering dipanggil dengan sebutan Gusdur, beliau mengakui keberadaan aliran Konghucu di Indonesia, yang dulu tidak diakui keberadaannya, maka dari itu semakin bertambah pula beragam agama di Indonesia. Tetapi yang sering terjadi di Indonesia adalah konflik antara umat agama Islam dan Kristen.
            Beragam hal inilah yang menjadikan Indonesia rawan konflik, tidak terkecuali konflik antar umat beragama seperti contohnya konflik Islam-Kristen. Dan jika kita menelaah lebih dalam jika konflik itu mengenai konflik agama maka yag banyak terjadi adalah konflik antara agama Islam-Kristen, karena sudah banyak yang menguatkan tentang ini. Ini dikarenakan Di Indonesia, fundamentalisme agama masih begitu kelihatan, terutama bagi golongan Kristen dan Islam. Konflik berdarah antara Islam Kristen di Ambon, Poso, dan beberapa wilayah lain yang berbuntut pengrusakan dan penghancuran rumah ibadat serta pembunuhan menjadi indikasi adanya kelompok-kelompok fundamentalis sempit ini. Walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya benar jika meletakkan kesalahan pada sikap fundamentalis ini sebagai satu-satunya motif dari konflik tersebut, tetapi sikap ini dapat menjadi pemicu terjadinya konflik tersebut.
      Yang pertama adalah konflik Kasus Perusakan Tempat Ibadah dan Fasilitas Publik
    Kasus perusakan tempat ibadah merupakan kasus klasik yang terjadi antara umat Islam di Kristen. Persengketaan mengenai pendirian tempat ibadanh tidak berhenti meskipun ada Surat Keputusan B ersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri no 1 tahun 1969 tentang pendirian Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat. Kelompok Kristen yang tidak merasa senang dengan SKB tersebut secara de facto tidak secara serius mengakui keberadaan SKB tersebut. Sementara itu, umat Islam selalau menggunakan SKB tersebut sebagai alasan untuk menyikapi pendirian tempat ibadah Nasrani yang dipandang tidak sesuai dengan kebutuhan nyata dan situasi psikologis masyarakat.
    Di Era Refornasi, persoalan tempat ibadah masih menjadi titik genting hubungan Islam-Kristen. Kegentingan tersebut di era reformasi telah terjadi semenjak masa transisi dari Orde Baru ke Era Reformasi. Perubahan Era Orde Baru ke Era Reformasi diikuti dengan berbagai kerusuhan sosial. Kees van Dijk1 mencatat bahwa pergeseran tahun 1996-1997 (akhir kekuasaan Orde Baru) terjadi berbagai bentuk kekerasan sosial di berbagai wilayah. Ia mencatat berbagai kerusuhan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia khususnya di Jawa.
    Dijk berpendapat bahwa kerusahan tersebut disebabkan oleh perselisihan politik nasional. Perwujudannya mengambil dua bentuk: a) kerusahan terhadap kantor-kantor pemerintah, dan b) kerusuhan rasial dan keagamaan.2 Hal senada diungkapkan oleh Riza Shihbudi dan Moch Nurhasim. Keduanya memetakan kerusahan di Indonesia pada era akhir Orde Baru dan Awal Reformasi menjadi dua: a) model kekerasan intramasyarakat, b) konflik vertikal, yaitu antara negara dan masyarakat.3
    Keduanya menilai bahwa era awal Reformasi (1998-2000) merupakan era terjadinya pembelahan sosial maupun politik atas dasar suku, agama, ras, maupun golongan.
    Sebenarnya ledakan kerusuhan menjadi kerusuhan rasial dan keagamaan merupakan fenomena yang menarik. Pertama pemicu konflik (trigger) utamanya biasanya bukan persoalan agama atau ras. Kedua pelampiasan emosi massa di antaranya ditujukan kepada fasilitas-fasilitas rumah ibadah dan sekolah yang dikelola non-muslim. Ketika berbagai kerusuhan di awal reformasi terjadi, seperti di Solo, banyak toko dan industri rumah tangga memampangkan tulisan yang menunjukkan toko atau industri tersebut milik muslim-pribumi. 
    Dua kata tersebut seolah menunjukkan siapa yang menjadi sasaran dan siapa yang menjadi pelaku. Akan tetapi, akar persoalan itu sendiri dapat dilacak kepada ketimpangan sosial di masyarakat. Pertama, Etnis China/Tionghoa, meskipun minoritas dan secara politik kurang terepresentasi, memiliki jaringan bisnis yang kuat (menguasai 70% ekonomi Indonesia). Etnis China menguasai sektor bisnis di Indonesia, dan mendapatkan berbagai fasilitas akibat kerjasama dengan pihak penguasa. Kedua, etnis China selain menganut Konfusianisme, umumnya menganut Kristen, baik Protestan maupun Katholik.
    Kerusuhan sosial di Indonesia yang menyangkut persoalan ekonomi dan agama tidak jarang bersentuhan dengan kelompok etnis China atau Kristen. Hal itu disebabkan karena kesenjangan ekonomi di Indonesia terjadi secara mencolok. Pribumi, dengan mayoritas penganut Islam dan golongan etnis China, yang dipersepsi sebagai penganut Kristen, karena Konfusianisme saat itu (sebelum era Presiden Abdurrahman Wahid) tidak diakui sebagai agama resmi.
    Tidak mengherankan apabila sasaran amuk massa di era transisi tersebut sering diarahkan kepada dua kelompok tersebut, yaitu Kristen dan China. Kasus-kasus berikut contoh amuk massa tersebut.
            Yang kedua adalah Amuk Massa di Kupang, Amuk Massa di Kupang terjadi pada tanggal 30 November 1998. Amuk massa tersebut bermula dari aksi perkabungan dan aksi solidaritas warga Kristen NTT atas peristiwa Ketapang, yaiti bentrok antara warga Muslim dan Kristen dengan disertai perusakan berbagai tempat ibadah. Aksi perkabungan dan solidaritas itu sendiri diprakarsai oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan Kristen, seperti GMKI, PMKRI, Pemuda Katholik NTT, dan mahasiswa di Kupang.
    Karena isu pembakaran gereja, massa tersebut kemudian bergerak menuju masjid di perkampungan muslim kelurahan Bonipoi dan Solor, setelah sebelumnya melakukan perusakan masjid di Kupang. Amuk massa tanggal 30 November tersebut mengakibatkan setidaknya 11 masjid, 1 mushola, dan beberapa rumah serta pertokoan milik warga muslim rusak. 
    Amuk massa tersebut tidak hanya berhetnti pada tanggal 30 November itu saja. Dua hari setelahnya, yaitu tanggal 1 dan 2 Desember 1998 kerusuhan masih terjadi dan mengakibatkan beberapa kerusakan. Sasaran amuk massa tersebut mencakup rumah milik ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP), masjid dan toko-toko milik orang Bugis.
    Kerusuhan Kupang tersebut berakar dari persaingan kelompok masyarakat, yaitu antara penganut Kristen yang umumnya warga asli dan warga muslim, yang sebagia adalah pendatang. Kecepatan pertumbuhan masjid dan perkembangan ekonomi umat Islam yang baik, karena mereka sulit menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), menimbulkan kecemburuan sosial. Amuk massa tanggal 30 November 1998 adalah momentum di mana kecemburuan tersebut mendapatkan ekspresinya lewat idiom agama.
      Yang ketiga adalah Amuk Massa di Ketapang
    Amuk massa di Ketapang patut dicatat di sini karena memiliki rangkaian dengan amuk massa di Kupang. Amuk massa di Ketapang terjadi tanggal 21 November 1998. amuk massa tersebut bermula dari pemukulan penjaga bulu tangkis, yang berasal dari Ambon, terhadap seorang warga Ketapang. Peristiwa tersebut menjadi amuk massa ketika ada isu tentang masjid yang dibakar oleh warga Ambon.
    Isu pembaaran masjid tersebut membuat peristiwa kecil tersebut membesar dan mengara kepada perusakan gereja tempat warga Ambon. Terjadilah bentrokan antara warga dan berbagai tindak perusakan. Tercatat ada 16 orang meninggal, 81 luka-luka, 427 orang rawta jalan, 16 gereja dibakar, 1 masjid rusak, 3 sekolah rusak, selain, kantor koramil, bank, dan rumah serta kendaraan.
      Yang keempat adalah Amuk Massa di Mataram Nusa Tenggara Barat, Pada tanggal 17 Januari 2000 dilaksanakan tablig Akbar untuk solidaritas kasus Ambon di Mataram, yang dikenal dengan “Peristiwa 171â€. Tabligh Akbar tersebut didukung oleh berbagai organisasi Islam, seperti Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, HMI, KAMMI, GP Anshor, Banser, Forum Komunikasi Pondok Pesantren NTB dan Pondok Pesantren Nurul Hikmat.
    Tabligh Akber tersebut didahului dengan surat terbuka kepada umat Nasrani di NTB agar turut mengutuk serangan terhadap umat Islam di Ambon. Hal itu mendapatkan respon dari berbagai pihak, baik Departemen Agama maupun kepolisian setempat. Pemerintah menjamin bahwa umat Nasrani tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan mereka. Berbagai persiapan pun dilakukan oleh aparat untuk menjaga Tabligh Akbar tersebut.
    Akan tetapi, selesai acara tersebut, secara tidak terduga terjadi pembakaran terhadap gereja-gereja dan sekolah Kristen. Kerusuhan terjadi selama tiga hari (sampai tanggal 19) dengan sasaran yang semakin beragam, yaitu rumah-rumah warga Nasrani dan pusat-pusat perdagangan.
    Di antara faktor-faktor yang ditengarai sebagai penyebab amuk massa tersebut antara lain pembangunan gereja-gereja mewah yang tidak mendapatkan izin dari pemerintah setempat, tetapi tetap dibangun. Ada pula gereja yang para jemaatnya datang dari luar wilayah dimana gereja tersebut dibangun.
    Yang kelima adalah Kasus Poso merupakan potret buram hubungan Islam dan Kristen di Indonesia. Persaingan antara pemeluk Islam dan Kristen sebenarnya telah ada semenjak era kolonial, tetapi baru pada Era Reformasi persaingan tersebut berubah menjadi konflik berdarah. Kebijakan untuk menghindari isu SARA di Era Orde Baru ternyata berbuah ledakan konflik setelah tumbangnya kekuasaan Orde Baru.
    Konflik Poso umumnya dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama berlangsung pada tanggal 25-30 Desember 1998 dipicu oleh penyerangan terhadap Ridwan (21 tahun) yang sedang tidur-tiduran di masjid oleh tiga pemuda Kristen yang sedang mabuk. Peristiw atersebut kemudian disusul dengan penyerangan oleh massa Herman Parimo ke sejumlah rumah milik warga muslim. Peristiwa tersebut diakhiri dengan ditangkapnya Herman Primo yang diadili pada awal Januari 1999.
    Konflik Poso fase kedua terjadi pada 15-21 April 2002. Konflik jilid kedua dipicu oleh perkelahian antara pemuda Kristen dan pemuda Islam. Peristiwa tersebut disusul dengan perusakan dan pembakaran rumah, kios, serta bangunan sekolah milik warga Kristen dan mengakibatkan pengungsian kalangan Kristen.
    Konflik Poso Fase ketiga terjadi pada 23 Mei-10 Juni 2001. kerusuhan tersebut dimulai dengan kehadiran pasukan ninja pimpinan Fabianus Tibo. Pada pertengahan Mei mulai terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Tibo. Puncaknya adalh pembunuhan sekitar 200 santri di Pesantren Walisongo.
    Konflik Poso mengakibatkan 504 orang meninggal, 313 orang terluka, dan sebanyak 7022 rumah terbakar, 1378 rumah rusak berat dan 690 rumah rusak ringan, 31 tempat ibadah rusak, sebuah Pesantren rusak, dan berbagai fasilitas lainnya.7 Konflik fase ketiga adalah yang paling berdarah dalam rangkaian kasus Poso. Konflik Poso diakhiri dengan penangkapan dan penahanan para tersangka, di antaranya adalah hukuman mati terhadap Fabianus Tibo dan penangkapan beberapa warga dari pihak Islam.
            Dalam konflik Poso, institusi agama, seperti gereja dan ormas Islam turut campur. Kasus Poso fase kedua dan ketiga menyebabkan mobilisasi massa dengan menggunakan jaringan agama masing-masing. Gereja menjadi tempat untuk mobilisasi massa Kristen, sementara itu Ormas-ormas Islam menjadi sarana untuk mengumpulkan dukungan untuk membantu sesama muslim. 
            Secara acak, konflik Poso masih belum sepenuhnya reda sampai beberapa waktu kemudian dengan adanya mutilasi tiga orang siswi Kristen dan pembunuhan seorang pendeta. Kasus Poso kemudian juga menarik perhatian internasional, terutama setelah terjadinya kasus World Trade Centre 11 September 1999. pemerintah Indonesia mendapatkan tekanan dari pihak asing untuk menyelesaikan kasus Poso dan menekan kelompok-kelompok Islam yang dituduh sebagai Jemaat Islamiyah.
            Yang keenam adalah     Konflik yang pertama dibahas dalam paper ini adalah konflik yang terjadi antara islam-Kristen adalah konflik di Ambon-Maluku. Konflik Islam-Krisren ini adalah termasuk konflik yang memakan korban yang banyak dan memakan waktu yang lama yaitu mulai pada tahun 1999 sampai 2002, serta mengundang perhatian dari elemen-elemen masyarakat di tingkat nasional maupun internasional. Konflik tersebut bermula di kota Ambon, namun pada perkembangannya merembet ke daerah-daerah lain, seperti Ternate, Tidore, dan Halmahera.
            Menurut Jan S. Aritonang, konflik di Maluku sebenarnya sudah lama terjadi, bahkan semenjak abad ke-16. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pengkajian Kerukunan Umat Beragama (LPKUB), 5 tahun sebelum konflik berbagai ketegangan terjadi antara dua kelompok pemeluk agama yang berbeda tersebut telah terjadi berbagai ketegangan antara kedua belah kelompok, yang meliputi masalah-masalah berikut:
  1. Pernikahan beda agama (71 kasus)
  2. Pendirian tempat ibadah (51 kasus)
  3. Penyiaran agama (48 kasus)
  4. Penodaan terhadap agama (37 kasus)
  5. Kegiatan aliran sempalan (35 kasus)
  6. Perayaan hari-hari besar agama (32 kasus)
  7. Bantuan luar negeri (21 kasus)
  8. Lainnya (5 kasus) 
            Dengan demikian, konflik Maluku sebenarnya telah berakar lama, dan dia antaranya didukung oleh kebijakan pemerintah kolonial yang berat sebelah terhadap masyarakat Kristen. Pemeluk Kristen mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan di pemerintahan (ketentaraan) dan mendapatkan gaji lebih besar dibandingkan penduduk muslim.
            Konflik sosial di Maluku dimulai dengan kerusuhan di Ambon yang terjadi pada tanggal 19 Januari 1999 yang dipicu oleh pertikaian antara sopir angkot Yopie dan Salim di terminal batu Merah. Kerusuhan tersebut kemudian membesar dan menjadi konflik terbuka antara penduduk muslim dan penduduk Kristen. Kedatangan preman Ambon dari Jakarta pasca kasus Ketapang, ditengarai menjadi salah satu sebab mengapa konflik tersebut berkembang menjadi konflik terbuka. Konflik tersebut menjadi keprihatinan luas karena terjadi ketika umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Konflik tersebut segera menarik perhatian umat Islam di Jawa, khususnya Laskar Jihad pimpinan Jafar Umar Thalib.
            Konflik Maluku sampai tahun 2000 mencatatkan korban yang besar. Menurut data Republika, di Ambon dan sekitarnya sampai tahun 200, tercatat 8000-9000 korban jiwa, dan 700.000 orang mengungsi. Sementara itu, menurut Harian Kompas tercatat 38 gedung pemerintahan, 4 bank, 719 toko, 45 masjid, 47 gereja, 198 kendaraan roda empat, 128 kendaraan roda dua, dan 7046 rumah rusak.
            Jika melihat konflik yang terjadi di Ambon ini maka konflik antara Islam-Kristen sudah terjadi sejak lama dan sebenarnya juga bukan murni konflik Islam-Kristen tetapi banyak hal yang mendasarinya seperti pemerintahan kolonial yang lebih memihak kristen dari pada Islam. Jadi bisa juga konflik ini berawal dari kepentingan colonial pada tahun 1999 untuk mengadu domba masyarakat Ambon supaya terpecah belah, tetapi menjadi konflik yang benar-benar besar karena sudah mengatasnamakan agama dan susah terselesaikan sehingga menjadi konflik yang berlaru-larut.
            Dalam kasus ini jika dilihat dari jenisnya adalah termasuk konflik destruktif, dimana pemeluk agama terlalu fanatik terhadap agamanya sehingga menganggap agama yang lain buruk dan ingin menyingkirkannya. Sebenarnya fanatic dengan agama yang yang dipercayainya tidak salah, tetapi rasa ingin menyingkirkan agama lain itu yang kurang benar. Karena pada dasarnya kita sebagai manusia mempunyai hak dalam memilih agama yang akan kita anut, karena masalah agama atau kepercayaan itu adalah masalah hubungan individu pada Tuhannya, jadi siapapun tidak boleh menyuruh orang lain pindah agama atau apapun dan tidak berhak utuk berusaha menyingkirkan agama lain.
            Sebenarnya masih banyak lagi contoh konflik yang terjadi antara gama Islam dan Kristen di Indonesia. Dan konflik terbabaru yang terjadi di Indonesia pada tahun 2010 ini adalah konflik tentang agama Islam dan Kristen di Bekasi. Konflik ini terjadi karena adanya masalah tentang pendirian tempat ibadah, dimana menurut berita uamt Kristen tidak boleh mendirikan tempat ibadah disana. Dan berikut ini adalah berita yang telah beredar luas dimasyarakat tentang konflik pendirian tempat ibadah umat Kristen di Bekasi.
            Berita yang muncul diawali dengan kasus penyegelan rumah milik jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Ciketing Bekasi, Jawa Barat yang disalahgunakan menjadi gereja HKBP Pondok Timur Indah, akhirnya berbuntut panjang. Jemaat HKBP tidak terima dengan keputusan pemerintah dan melakukan berbagai aksi demonstratif, yang akhirnya berujung pada insiden bentrokan jemaat HKBP dengan warga Muslim Bekasi. Sebagian kalangan kemudian mengangkat dan membesar-besarkan kasus ini sampai ke dunia internasional, sehingga memberikan citra negatif terhadap Indonesia.
            Citra buruk yang tampaknya ingin dibentuk adalah bahwa seolah-olah negeri Muslim terbesar di dunia ini merupakan satu bangsa yang tidak beradab yang tidak menghargai kebebasan beragama; seolah-olah, kaum Kristen di Indonesia merupakan kaum yang tertindas. Sejumlah aktivis Kristen di Indonesia tergolong rajin memanfaatkan momentum kasus-kasus konflik soal pendirian gereja, menjadi komoditi yang berharga untuk membentuk citra buruk bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslim.
            Ujung-ujungnya, muncul tekanan dari berbagai Negara atau kelompok di luar negeri, agar Indonesia memberikan ruang kebebasan beragama yang lebih besar kepada golongan minoritas Kristen.  Pada 12 Februari 2010 lalu, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) mengeluarkan data, yang menurut mereka, dalam tahun 2007 ada 100 buah gereja yang diganggu atau dipaksa untuk ditutup. Tahun 2008,  ada 40 buah gereja yang mendapat gangguan. Tahun 2009 sampai Januari 2010, ada 19 buah gereja yang diganggu atau dibakar di Bekasi, Depok,  Parung, Purwakarta, Cianjur, Tangerang , Jakarta , Temanggung dan  Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas (Sumatera Utara).
            Menurut data FKKJ tersebut, selama masa pemerintahan Presiden Sukarno (1945 – 1966) hanya ada 2 buah gereja yang dibakar. Pada era pemerintahan Presiden Suharto (1966 – 1998) ada 456 gereja yang dirusak atau dibakar.  Pada periode 1965-1974, kata FKKJ, “hanya”  46 buah gereja yang dirusak atau dibakar. Sedangkan dari tahun 1975 atau masa setelah diberlakukannya SKB  2 Menteri tahun 1969 hingga saat lengsernya Suharto tahun 1998, angka gereja yang dirusak atau dibakar sebanyak 410 buah.
            Mungkin banyak pihak yang tercengang melihat besarnya angka perusakan gereja di Indonesia. Sangat fantastis. Sayangnya, pihak FKKJ tidak menyajikan analisis yang komprehensif tentang data tersebut. Benarkah yang dirusak itu memang gereja? Mengapa hal itu terjadi? Umat Islam bisa saja membuat data, berapa ribu masjid dan mushola yang dirusak dan digusur oleh developer Kristen! Juga, mestinya ada analisis, mengapa sudah begitu banyak gereja yang dirusak, tetapi pertumbuhan gereja di Indonesia juga sangat fantastis.
            Dari masalah yang timbul diatas maka berbagai pendapatpun muncul kepermukaan. Sperti salah satu pendapat yang menyatakan bahwa akar masalah ada pada jemaat HKBP yang tidak tunduk pada Surat Keputusan Bersama (SKB, atau kadang disebut Surat Peraturan Bersama, SPB No 8 dan 9/2006) tentang pendirian rumah ibadah. Sebagian lain justru menyalahkan SKB yang nyata-nyata telah menghalang-halangi orang untuk membangun rumah ibadah.
            Sebenarnya di Bekasi masyarakatnya mayoritas menganut agama Islam, dalam kasus ini seakan umat Islamlah yang melarang pendirian tempat ibadah tersebut. Seperti halnya teori yang dikemukakan oleh Max Weber, dimana konflik itu tergantung kemunculannya ”Kepemimpinan Kerismatik”, dimana dia dapat memobilisasi subordinate. Bahwa konflik revolusioner tidak selal didalam system yang tidak adil. Didalam kasus pendirian tempat ibadah di Bekasi ini yang berperan sebagai superordinat adalah umat Islam, dimana umat Islam sebagai subordinat ingin mempertahankan kewenangan dan kekuasaanya sebagai penganut agama yang mayoritas. Sedangkan uamt Kristen dalam masalah ini adalah sebagai subordinat, yakni lapisan yang igin mengadakan perubahan karena sebagai pihak yang tunduk pada superordinat.
            Lewis A Cusser juga menghasilkan teori konflik yang didalam teorinya Cusser mengatakan bahwa konflik yang terjadi dimasyarakat berawal dari anggota subordinat dan sistem yang tidak adil mempertanyakan keabsahan keberadaan distribusi sumber-sumber langka. Subordinat yang menanyakan keabsahan sumber langka memfokuskan pada pertentangan dan perjuangan untuk mendapatkan sumber langka tersebut. akibat perjuangan dari subordinat, pertentangan tidak dapat terelakkan lagi sehingga konflik muncul kepermukaan. Konflik pendirian abadah ini analisis dengan teori Cusser maka Umat Kristen yang disini sebagai subordinat ingin memperjuangkan sumber langka yaitu pendirian tempat ibadah bagi mereka yang selama ini tidak ada, tetapi karena mereka tidak memiliki lahan untuk mendirikan tempat ibadah yang telah diatur oleh pemeritang maka umat Kristen tidak bisa melakukannya, sehingga terjadi konflik antara umat Kristen dan Islam. Dimana umat Islam lebh leluasa mendirikan tempat ibadah karena mereka adalah uamt beragama yang mayoritas menempati wilayah tersebut.
            Konflik adalah keniscayaan yang tidak dapat diihindarkan dalam kehidupan masyarakat itupun dapat mempunyai fungsi. Apabila konflik terjadi, teori fungsionalisme struktural memusatkan perhatiannya pada bagaimana cara untuk menyelesaikan konflik tersebut sehingga masyarakat tetap dalam keseimbangan. Pendukung teori fungsionalisme berpendapat bahwa masyarakat dianalogikan sebagai organisme biologis. Masyrakat seprti organisme dinyatakan sebagai sistem-sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang terspesialisasi dan saling tergantung.
            Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial yang dominan dalam bentuknya lapisan sosial, perasaan agama, dan termasuk konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat dipenuhi kebutuhan nilai-nilai duniawi. Tetapi tidak mengutik hakikat apa yang ada di luar atau referensi trasendental (istilah Talcott Parsons). Maka dari pernyataan diatas bisa disimpulkan manusia akan menjadi lebih mempermasalahkan sesuatu jiak sudah menyangkut masalah agama. Palagi jika menyinggung agama lain, sehingga panganut agama yang tersinggung akan merasa marah sehingga menjadikan konflik.
            Jika ditelaah lebih lanjut maka konflik antar agama di Indonesia secara khusus akan mengancam equilibrium masyarakat yang sensitif bagi masyrakat Indonesia. Olek karena itu perlu dipahami apa penyebab atau latar belakang konflik antar agama di Indonesia itu terjadi. Tentu saja konflik mempunyai latar belakang sejarah, sosial, ekonomi, budaya dan politik sendiri-sendiri. hal itu merupakan akibat faktor stuktural dan kegagalan para politisi dan lainnya dalam mengambil tindakan. Seringkali latar belakang profokasi yang terencana oleh pihak-pihak dengan kepentingan tersembunyi dalam mengarahkan kekacauan. Dengna demikian jika seseorang ingin menyelesaikan konflik, masing-masingnya nharus dilakukan sendiri-sendiri.
            Akan tetapi ada latar belakang umum terhadap konflik ini, yaitu perlu dipahami sifat konflik tersebut yang sesungguhnya. Pertama kali adalah berusaha untuk menempatkan konflik-konflik ini kedalam perspektif. Untuk melakukan hal itu seseorang orang harus melihatnya dari konteks iklim umum tindak kekerasan konflik. Iklim adalah terbukti untuk seluruh konflik. Sudah terjadi benturan antara suku yang berbeda tidak peduli agama. Setiap kesalah pahaman kecil ditempat keramaian maka akan terjadi pertumpahan darah. Karena masyarakat Indonesia sedang dalam cengkraman budaya kekerasan dimana konflik yang biasa terjadi sehari-hari tidak lagi dikelola dengan cara konstruktif, namun sebaliknya segera menjadi kekerasan dan bisa melibatkan komunitas. Hal itu terjadi tanpa ada tanda-tanda bahwa pihak yang tertarik dapat dengan mudah mengambil keuntungan dari situasi ini.
            Bahanya adalah bahwa begitu agama terlibat seperti konflik Ambon-Maluku, mekanisme pembentukan solidaritas dapat berubah menjadi gerakan dengan dampak secara nasional. Ada fenomena yang mengganggu, bahwa meskipun mempunyai latar belakang dan kondisi lokal yang khusus dan berbeda, konflik-konflik ini cencerung semakin lama semakin lebih sederhana, yaitu menjadi konflik antara Islam dan Kristen. Dan permasalahan seperti ini dapat menyebar keseluruh pelosok negeri dengn potensi menjadi bencana besar.
            Apa yang harus menjadi tujuan pendidikan yang menggambarkan perdamaian antar agama, ialah yang cenderung membangun sikap yang membuat anggota komunitas agama yang berbeda mampu berkomunikasi dengan cara yang normal, damai satu sama lain dan mengelola konflik mereka tidak dengan cara kekerasan.
            Untuk konteks seperti Indonesia, yang paling baik bagi para pemeluk agama sedapat mungkin saling bersilaturahmi termasuk dalam menjalankan pelayanan sosial mereka sehingga hal-hal negatif dan saling curiga akibat tidak saling mengerti bisa kita hapuskan. Menghabiskan energi untuk saling berkonflik dan saling curiga itu untuk apa? Tak ada yang untung sama sekali. Malah menguras energi dan membuat citra kita di dalam maupun di luar negeri menjadi buruk. Kalau kita bisa saling bersilaturahmi di tingkat akar-rumput dengan baik, itu akan menjadi kekuatan besar; menjadi modal sosial bersama-sama termasuk untuk memperbaiki kualitas bangsa ini.
   Kemajemukan agama seharusnya juga tidak menjadi penghalang untuk hidup bersama, berdampingan secara damai dan aman. Bahkan, kemajemukan agama tidak menghalangi umat beragama untuk membangun suatu  negara yang bisa mengayomi dan menghargai keberadaan agama-agama tersebut. Adanya saling pengertian dan pemahaman yang dalam akan keberadaan masing-masing menjadi modal dasar yang sangat menentukan. Pengalaman-pengalaman Nabi di atas mengandung dimensi moral dan etis. Di antara dimensi moral dan etis agama-agama adalah saling menghormati dan menghargai agama/pemeluk agama lain. Jika masing-masing pemeluk agama memegang moralitas dan etikanya masing-masing, maka kerukunan, perdamaian dan persaudaran bisa terwujud.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1989.Interaksi Antar Suku Bangsa dalam Masyarakat Majemuk.Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah        dan Nilai Tradisional.

Kahmad, Dadang.2002.Sosiologi Agama.Bandung:PT Remaja Roskadarkarya.

Winardi.2007.Manajaman Konflik.Bandung:Mandar Maju.

Hendropustito, D.1984.Sosilogi Agama.Yogyakarta:Kanisisus.

Anonim.2003.Konflik Komunal di Indonesia Saat Ini.Jakarta:Leiden.

Miall hugh, et all.2002.Resolusi Damai Konflik Kontemporer.Jakarta:PT Grafindo         Persaja.

Salim, Agus.2007.Teoei Sosiologi Klasik dan Modern.Semarang:Universitas Negeri      Semarang Pres.

Johnson, Doyle Paul.1986.Teori Sosiologi Klasi dan Modrn Jilid 1.Jakarta:PT Gramedia.

ARTIKEL  KONFLIK ISLAM - KRISTEN DI ERA REFORMASI, dari Ahwan Fanani

HUBUNGAN ANTAR AGAMA DI INDONESIA : TANTANGAN DAN HARAPAN, Oleh : Zainul AbasDosen STAIN Surakarta



 


7 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik..kembangkan terus kreatifitasmu teman...terima kasih..

    BalasHapus
  2. tampilan artikelnya memang sederhana, tetapi menarik.
    tolong taampilan artikelnya lebih di perlebar lagi agar tidak terlalu ke bawah, dan lagi lebih mudah dan cepet . . .

    BalasHapus
  3. artikelnya bagus dan mudah dipahami, saran saya supaya halaman atikel lebih diperluas lagi agar tidak terkesan artikelnya sangat panjang
    terimakasih........

    BalasHapus
  4. @minati
    Terima kasi atas komentar positifnya, dan saya akan mencoba untuk mengembangkannya.
    Gamsahamnida.... ^^\/

    @asri n hesti
    Okey terima kasih atas sarannya, saya akan mencoba untuk memperlebar tampilan artikelnya.
    Gamsahamnida... ^^\/

    BalasHapus
  5. .sangat menarikk sekalii artikel.naa
    .aquwh SUKA...

    BalasHapus
  6. Agama berarti Tdk Kacau tetapi justeru agamalah yg membuat kekacauan krn ada perintah utk memerangi membunuh yg berbeda, krn mrk itu kafir maka halal darahnya.

    BalasHapus